Show simple item record

dc.contributor.advisorRASYID, HARYADI ARIEF NUUR
dc.contributor.authorTRIKANYA, YATNAWATI
dc.date.accessioned2018-03-20T07:09:55Z
dc.date.available2018-03-20T07:09:55Z
dc.date.issued2015
dc.identifier.urihttp://repository.umy.ac.id/handle/123456789/18099
dc.descriptionDi INCULS (Indonesian Culture and Language Learning Service) UGM Yogyakarta, setiap semester selalu menerima mahasiswa dari Korea yang ingin belajar bahasa Indonesia, baik mereka yang memang berasal dari jurusan bahasa Indonesia atau yang bukan dari jurusan bahasa Indonesia. Dalam kesehariannya mereka tidak lepas dari interaksi dengan orang Indonesia termasuk mahasiswa Indonesia. Ada pula mahasiswa Indonesia yang tertarik belajar bahasa dan budaya Korea karena menikmati drama, film, lagu atau acara-acara TV Korea. Kedua pihak inilah yang biasanya saling berinteraksi karena adanya kebutuhan yang ingin didapat. Namun dalam prakteknya interaksi yang dijalani tidak selalu mudah, ada hambatan-hambatan yang membatasi interaksi mereka, beberapa penyebabnya antara lain kecemasan akan terjadinya kesalahan dalam berbicara atau bersikap sehingga menimbulkan kesalahpahaman serta ketidakpastian dalam memprediksi perilaku serta bagaimana harus bersikap. Sehingga penelitian ini berusaha mengetahui bagaimana mahasiswa Korea dan Mahasiswa Indonesia mengatur kecemasan dan ketidakpastian mereka dalam berinteraksi. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dan dianalisa secara kualitatif. Lokasi penelitian mengambil tempat di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya UGM. Informan diambil sebanyak 4 orang, 2 mahasiswa Korea , 1 perempuan dan satu laki-laki dan 2 mahasiswa Indonesia, 1 perempuan dan 1 laki-laki. Keempatnya saling mengenal dan berinteraksi namun peneliti fokus pada interaksi segender. Teori yang digunakan adalah Anxiety/Uncertainty Management dari Willian B. Gudykunst. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan observasi. Uji validitas data yang digunakan adalah triangulasi sumber. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa untuk dapat mengatur kegelisahan dan ketidakpastian sehingga tercipta komunikasi yang efektif adalah, mahasiswa Korea dan mahasiswa Indonesia harus merasa nyaman terlebih dahulu satu sama lain, faktor yang mendasari rasa nyaman tersebut adalah ketika karakter seorang mahasiswa berkenan bagi mahasiswa lainnya. Walaupun faktor bahasa juga penting namun bila tidak nyaman maka komunikasi tidak bisa efektif.en_US
dc.description.abstractDi INCULS (Indonesian Culture and Language Learning Service) UGM Yogyakarta, setiap semester selalu menerima mahasiswa dari Korea yang ingin belajar bahasa Indonesia, baik mereka yang memang berasal dari jurusan bahasa Indonesia atau yang bukan dari jurusan bahasa Indonesia. Dalam kesehariannya mereka tidak lepas dari interaksi dengan orang Indonesia termasuk mahasiswa Indonesia. Ada pula mahasiswa Indonesia yang tertarik belajar bahasa dan budaya Korea karena menikmati drama, film, lagu atau acara-acara TV Korea. Kedua pihak inilah yang biasanya saling berinteraksi karena adanya kebutuhan yang ingin didapat. Namun dalam prakteknya interaksi yang dijalani tidak selalu mudah, ada hambatan-hambatan yang membatasi interaksi mereka, beberapa penyebabnya antara lain kecemasan akan terjadinya kesalahan dalam berbicara atau bersikap sehingga menimbulkan kesalahpahaman serta ketidakpastian dalam memprediksi perilaku serta bagaimana harus bersikap. Sehingga penelitian ini berusaha mengetahui bagaimana mahasiswa Korea dan Mahasiswa Indonesia mengatur kecemasan dan ketidakpastian mereka dalam berinteraksi. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dan dianalisa secara kualitatif. Lokasi penelitian mengambil tempat di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya UGM. Informan diambil sebanyak 4 orang, 2 mahasiswa Korea , 1 perempuan dan satu laki-laki dan 2 mahasiswa Indonesia, 1 perempuan dan 1 laki-laki. Keempatnya saling mengenal dan berinteraksi namun peneliti fokus pada interaksi segender. Teori yang digunakan adalah Anxiety/Uncertainty Management dari Willian B. Gudykunst. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan observasi. Uji validitas data yang digunakan adalah triangulasi sumber. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa untuk dapat mengatur kegelisahan dan ketidakpastian sehingga tercipta komunikasi yang efektif adalah, mahasiswa Korea dan mahasiswa Indonesia harus merasa nyaman terlebih dahulu satu sama lain, faktor yang mendasari rasa nyaman tersebut adalah ketika karakter seorang mahasiswa berkenan bagi mahasiswa lainnya. Walaupun faktor bahasa juga penting namun bila tidak nyaman maka komunikasi tidak bisa efektif.en_US
dc.publisherFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTAen_US
dc.subjectKomunikasi antar budaya, kecemasan, ketidakpastian, Korea, Indonesiaen_US
dc.titleMANAJEMEN KECEMASAN DAN KETIDAKPASTIAN MAHASISWA KOREA SELATAN DAN MAHASISWA INDONESIA DI LINGKUNGAN FAKULTAS ILMU BUDAYA, UNIVERSITAS GADJAH MADA, YOGYAKARTAen_US
dc.typeThesisen_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record