dc.contributor.advisor | AZIZAH, NUR | |
dc.contributor.author | FREINDENSAN, DUTHA | |
dc.date.accessioned | 2018-02-01T03:38:41Z | |
dc.date.available | 2018-02-01T03:38:41Z | |
dc.date.issued | 2017-12-16 | |
dc.identifier.uri | http://repository.umy.ac.id/handle/123456789/17371 | |
dc.description.sponsorship | Sengketa yang terjadi di Laut China Selatan yang berawal dari Klaim Republik Rakyat China di Laut China Selatan dengan menggambarkan Nine Dash Line atau Sembilan Garis Putus di Laut China Selatan dan China juga beralasan atas Hak Sejarah. Atas klaim yang di lakukan oleh China tersebut yang akhir membuat negara-negara Asia Tenggara yang berada di sekitar Laut China Selatan menjadi terganggu yuridiksinya. Dengan Nine Dash Line buatan China tersebut, Negara ASEAN tidak terima akan hal itu. Bentuk dari ketidak terimanya Negara anggota ASEAN akan Nine Dash Line tersebut adalah mengadakan Negosiasi di dalam pertemuan-pertemuan yang di adakan guna membahas konlik di Laut China Selatan.
Begitu pula yang terjadi kepada Indonesia, pasalnya Nine Dash Line buatan China tersebut mengambil sekitar 30% Perairan Natuna. Klaim yang dilakukan oleh China di Kepulauan Natuna membuat Indonesia tidak terima, selain mengikuti negosiasi ASEAN dengan China membahas Laut China Selatan, Indonesia juga melakukan kegiatan Sinyal Peringatan kepatan China, yaitu Indonesia melakukan Penembakan kapal-kapal yang berbendera China yang telah melakukan Illegal Fishing di Perairan Natuna, Indonesia juga melakukan Pembangunan serta Perbaikan Pangkalan militer di Kepulauan dan Perairan Natuna. | en_US |
dc.publisher | FISIP UMY | en_US |
dc.subject | Konlik, yuridiksi Negara, kedaulatan Negara, Sengketa, Laut China Selatan, Nine dash Line, Militer. | en_US |
dc.title | DIPLOMASI YANG DILAKUKAN OLEH INDONESIA TERHADAP KLAIM REPUBLIK RAKYAT CHINA (RRC) DI LAUT CHINA SELATAN (KEPULAUAN NATUNA) | en_US |
dc.type | Thesis
SKR
839 | en_US |