Show simple item record

dc.contributor.authorHARIYANTO, MUHSIN
dc.date.accessioned2016-11-10T22:57:54Z
dc.date.available2016-11-10T22:57:54Z
dc.date.issued2016-11-11
dc.identifier.urihttp://repository.umy.ac.id/handle/123456789/6310
dc.description.abstractTentanggaku bernama "Sanip", Ia pernah sekali beribadah haji. Sehari-hari dia hanyalah seorang pedagang kecil, petani kecil, dan imam di sebuah masjid kecil. "Orang Betawi Asli". Meskipun ibadahnya (di masjid) tak sesering para kiai di pesantren-pesantren, saya bisa merasakan kehangatan imannya. Waktu saya tanya, mengapa shalatnya hanya sebentar, dan doanya begitu pendek, cuma melulu istighfâr (mohon ampun), dia bilang bahwa ia tak ingin minta yang aneh-aneh. "Dia malu kepada Allah", karena sudah terlalu banyak diberi, sementara (ia) belum sempat banyak memberi" untuk dan karena Allah. Dan oleh karenanya "ia merasa perlu banyak ber istighfâr." (Mohammad Sobary, "Saleh dan Malu", dalam Tempo, 16 Maret 1991)en_US
dc.publisherUNIRES UMYen_US
dc.subjectAKHLAKen_US
dc.titleKINI SAATNYA KITA BERISTIGHFÂRen_US
dc.typeArticleen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record