dc.description.abstract | Acara Maulid di luar bulan Rabi’ul Awwal sebenarnya telah ada dari zaman dahulu, yang terjadi secara kultural pada kalangan masyarakat tertentu, seperti acara pembacaan kitab Dibâgh wal Barjanji atau kitab-kitab yang berisi shalawat-shalawat yang lain yang diadakan satu minggu sekali di desa-desa dan pesantren, hal itu sebenarnya adalah masuk dalam kategori Peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, walaupun di Indonesia, masyarakat tidak menyebutnya dengan sebutan maulid. Dan jika kita berkeliling di negara-negara Islam yang lain, maka kita pun akan menemukan bentuk acara dan waktu yang berbeda-beda dalam acara Maulid Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, karena ekspresi ‘syukur’ (nikmat) tidak hanya bisa dilakukan dalam satu waktu tertentu, tetapi harus terus menerus dan dapat berganti-ganti cara, selama ada nilai ketaatan (bersesuaian dengan prinsip dan nilai syari’at Islam) dan tidak bercampur dengan kemaksiatan. Seperti di Yaman, Peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, diadakan setiap Malam Jumat, yang berisi bacaan shalawat-shalawat Nabi dan ceramah agama dari para ulama, dengan tema utama: “Meneladani Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam”. | en_US |