Show simple item record

dc.contributor.authorSUSANAWATI, SUSANAWATI
dc.date.accessioned2019-05-31T01:28:48Z
dc.date.available2019-05-31T01:28:48Z
dc.date.issued2019-05-01
dc.identifier.urihttp://repository.umy.ac.id/handle/123456789/27110
dc.description.abstractP ertanian merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi nasional abad ke-21 masih akan tetap berbasis pertanian secara luas. Pentingnya peran sektor pertanian dalam pembangunan nasional diantaranya sebagai penyerap tenaga kerja, menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB), sumber devisa, bahan baku industri, sumber pangan dan gizi, serta pendorong bergeraknya sektor-sektor ekonomi lainnya. Dalam lingkungan yang lebih sempit, pembangunan pertanian diharapkan mampu meningkatkan akses masyarakat tani pada faktor produksi diantaranya sumber modal, teknologi, bibit unggul, pupuk dan sistem distribusi sehingga berdampak langsung dalam meningkatkan kesejahteraan (Saragih, 2011). Berkaitan dengan sistem distribusi, maka tidak bisa dilepaskan dari pemasaran pertanian. Sebagai proses produksi yang komersial, maka pemasaran pertanian merupakan syarat mutlak yang diperlukan dalam pembangunan pertanian. Pemasaran pertanian dapat menciptakan nilai tambah melalui beberapa kegunaan seperti guna tempat, guna 2 Dr. SUSANAWATI, S.P., M.P. waktu, dan guna bentuk. Dengan demikian pemasaran pertanian dianggap memberikan nilai tambah yang dapat dianggap sebagai kegiatan produksi. Pemasaran pertanian merupakan bagian ilmu pemasaran pada umumnya, tetapi dapat dianggap sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Anggapan ini didasarkan pada karakteristik produk pertanian serta subyek dan obyek pemasaran pertanian itu sendiri (Sudiyono, 2004). Salah satu konsep inti dalam pemasaran adalah rantai pasok. Rantai pasok untuk produk pertanian cukup kompleks. Sistem logistik produk pertanian memiliki karakteristik tertentu dan memerlukan penanganan khusus dan berbeda, karena dipengaruhi oleh sistem produksi, sifat produk, dan konsumen itu sendiri. Rantai pasok pertanian di Indonesia melibatkan banyak aktor, mulai dari petani sampai ke konsumen. Namun karena kurangnya sistem kolektif langsung dari para petani kecil, sehingga banyak pelaku dan transaksi yang harus dilalui terlebih dahulu, hal ini akhirnya berdampak pada harga hasil pertanian yang tinggi.en_US
dc.publisherUMY Pressen_US
dc.subjectRantai Pasok Pertanianen_US
dc.subjectKomoditas Bawang Merahen_US
dc.subjectKomoditasen_US
dc.subjectBawang Merahen_US
dc.titleRANTAI PASOK PERTANIANen_US
dc.title.alternativeDilengkapi dengan Contoh Kasus Komoditas Bawang Merahen_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

  • UMY Press
    Berisi buku dosen UMY yang diterbitkan oleh UMY Press.

Show simple item record